Tampilkan postingan dengan label Abu Nawas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Abu Nawas. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Juni 2011

Abu Nawas Mengecoh Raja

Sejak peristiwa penghancuran barang-barang di istana oleh Abu Nawas yang dilegalisir oleh Baginda, maka sejak saat itu pula Baginda Raja ingin sekali menangkap Abu Nawas dan menjebloskannya ke penjara.

Sudah menjadi hukum bagi siapa saja yang tidak sanggup melaksanakan titah Baginda Raja, maka tak perlu disangsikan lagi, dia akan mendapat hukuman. Dan Baginda tahu, Abu Nawas amat takut sama beruang.

Suatu hari Baginda memerintahkan prajuritnya menjemput Abu Nawas agar bergabung dengan rombongan Baginda Raja Harun Al Rasyid untuk berburu beruang. Abu Nawas tentu saja merasa takut dan gemetar, tetapi dia tidak berani menolak perintah Sang Baginda Raja.

Dalam perjalanan menuju ke hutan, tiba-tiba cuaca yang cerah berubah menjadi mendung. Baginda memanggil Abu Nawas. Dengan penuh rasa hormat, Abu Nawas mendekati Baginda.

"Tahukah mengapa engkau aku panggil?" tanya Baginda tanpa sedikit pun ada senyum di wajahnya.

"Ampun Tuanku, hamba belum tahu," kata Abu Nawas.

"Kau pasti tahu, bahwa sebentar lagi akan turun hujan. Hutan masih jauh dari sini. Kau kuberi kuda yang lamban, sedangkan aku dan pengawal-pengawalku akan menunggang kuda yang cepat. Nanti pada waktu santap siang, kita berkumpul di tempat peristirahatanku. Tapi ingat, bila hujan turun, kita harus menghindarinya dengan cara kita masing-masing, agar pakaian kita tetap kering. Nah, sekarang kita berpencar," Baginda menjelaskan.

Kemudian Baginda dan rombongan mulai bergerak. Abu Nawas kini tahu, Baginda sedang menjebaknya. Dia harus mancari akal. Dan ketika Abu Nawas sedang berpikir, tiba-tiba hujan pun turun.

Begitu hujan turun, Baginda dan rombongan segera memacu kuda untuk mencapai tempat perlindungan yang terdekat. Tetapi, karena derasnya hujan, Baginda dan para pengawalnya basah kuyup.

Ketika santap siang tiba, Baginda segera menuju tempat peristirahatan. Belum sempat baju Baginda dan para pengawalnya kering, Abu Nawas datang dengan menunggang kuda yang lamban.

Baginda dan para pengawal terperangah, karena menyaksikan baju Abu Nawas tidak basah sedikitpun. Padahal, dengan kuda yang paling cepat sekalipun, tidak bisa mencapai tempat berlindung yang paling dekat.

Pada hari kedua, Abu Nawas diberi kuda yang cepat yang kemarin ditunggangi oleh Baginda Raja. Kini Baginda dan para pengawal-pengawalnya mengendarai kuda-kuda yang lamban.

Setelah Abu Nawas dan rombongan kerajaan berpencar, hujan pun turun seperti kemarin. Malah hujan hari ini, lebih deras daripada kemarin. Baginda dan pengawalnya langsung basah kuyup karena kuda yang mereka tunggangi, tidak bisa berlari dengan kencang.

Ketika saat bersantap siang tiba, Abu Nawas tentunya sudah tiba di tempat peristirahatan lebih dahulu dari Baginda dan pengawalnya. Abu Nawas menunggu kedatangan Baginda Raja disana.

Selang beberapa saat, Baginda dan para pengawalnya tiba dengan pakaian yang basah kuyup. Melihat Abu Nawas dengan pakaiannya yang tetap kering, Baginda jadi penasaran. Beliau tidak sanggup lagi menahan keingintahuan yang selama ini disembunyikan.

"Terus terang, begaimana caranya menghindari hujan, wahai Abu Nawas?" tanya Baginda.

"Mudah Tuanku yang mulia," kata Abu Nawas sambil tersenyum.

"Sedangkan aku dengan kuda yang cepat, tidak sanggup mencapai tempat berteduh terdekat, apalagi dengan kuda yang lamban ini," kata Baginda.

"Hamba sebenarnya tidak melarikan diri dari hujan. Tetapi, begitu hujan turun, hamba secepat mungkin melepas pakaian hamba dan segera melipatnya, lalu segera mendudukinya. Ini hamba lakukan sampai hujan berhenti," jelas Abu Nawas kepada Baginda Raja.

Diam-diam, seperti biasa, Baginda Raja mengakui dan merasa kagum dengan kecerdikan Abu Nawas untuk kesekian kalinya.
http://siradel.blogspot.com/2011/06/kisah-abu-nawas-mengecoh-raja.html

Abu Nawas Ikut Sayembara Ayam dan Telur

Melihat ayam betinanya bertelur, Baginda tersenyum riang. Beliau memanggil pengawal, agar mengumumkan kepada rakyat, bahwa kerajaan mengadakan sayembara untuk umum. Sayembara itu berupa pertanyaan yang mudah, tetapi memerlukan jawaban yang tepat dan masuk akal.

Dan barangsiapa yang bisa menjawab pertanyaan itu, akan mendapat imbalan yang amat menggiurkan, yaitu satu pundi penuh uang emas. Tetapi bila tidak bisa menjawab, maka hukuman yang menjadi akibatnya.

Banyak rakyat yang ingin mengikuti sayembara itu, terutama orang-orang miskin. Beberapa dari mereka sampai meneteskan air liur. Mengingat beratnya hukuman yang akan dijatuhkan, maka tak mengherankan bila pesertanya hanya empat orang. Dan salah satu dari para peserta yang amat sedikit itu adalah Abu Nawas.

Aturan main sayembara itu ada dua. Pertama, jawaban harus masuk akal. Kedua, peserta harus mampu menjawab sanggahan dari Baginda sendiri.

Pada hari yang telah ditetapkan, para peserta sudah siap di depan panggung. Baginda duduk di atas panggung. Beliau memanggil peserta pertama. Peserta pertama maju dengan tubuh gemetar.

Baginda bertanya, "Manakah yang lebih dahulu, telur atau ayam?"

"Telur," jawab peserta pertama.

"Apa alasannya?" tanya Baginda.

"Bila ayam lebih dahulu, itu tidak mungkin, karena ayam berasal dari telur," kata peserta pertama menjelaskan.

"Kalau begitu, siapa yang mengerami telur itu?" sanggah Baginda.

Peserta pertama pucat pasi. Wajahnya mendadak berubah putih seperti kertas. Dia tidak bisa menjawab. Tanpa ampun, dia dimasukkan ke dalam penjara.

Kemudian peserta kedua maju. Dia berkata, "Paduka yang mulia, sebenarnya telur dan ayam tercipta dalam waktu yang bersamaan."

"Bagaimana bisa bersamaan?" tanya Baginda.

"Bila ayam lebih dahulu, itu tidak mungkin, karena ayam berasal dari telur. Bila telur lebih dahulu, itu juga tidak mungkin, karena telur tidak bisa menetas tanpa dierami," kata peserta kedua dengan mantap.

"Bukankah ayam betina bisa bertelur tanpa ayam jantan?" sanggah Baginda memojokkan.

Peserta kedua bjngung. Dia pun dijebloskan ke dalam penjara.

Lalu giliran peserta ketiga. Dia berkata, "Tuanku yang mulia, sebenarnya ayam tercipta lebih dahulu daripada telur."

"Sebutkan alasanmu," kata Baginda.

"Menurut hamba, yang pertama tercipta adalah ayam betina," kata peserta ketiga meyakinkan.

"Lalu bagaimana ayam betina bisa beranak-pinak seperti sekarang. Sedangkan ayam jantan tidak ada," kata Baginda memancing.

"Ayam betina bisa bertelur tanpa ayam jantan. Telur dierami sendiri. Lalu menetas dan menurunkan anak ayam jantan. Kemudian menjadi ayam jantan dewasa dan mengawini induknya sendiri," peserta ketiga berusaha menjelaskan.

"Bagaimana bila ayam betina mati sebelum ayam jantan yang sudah dewasa sempat mengawininya?" pancing Baginda lagi.

Peserta ketiga pun tidak bisa menjawab sanggahan Baginda. Dia pun dimasukkan ke penjara.

Kini tiba giliran Abu Nawas. Dia berkata, "Yang pasti adalah telur dulu, baru ayam, Yang Mulia."

"Coba terangkan secara logis," kata Baginda ingin tahu.

"Ayam bisa mengenal telur, sebaliknya telur tidak mengenal ayam," kata Abu Nawas singkat.

Agak lama Baginda Raja merenung. Kali ini Baginda tidak menyanggah alasan Abu Nawas. Satu pundi penuh uang emas akhirnya menjadi milik Abu Nawas.
http://siradel.blogspot.com/2011/06/kisah-abu-nawas-mengikuti-sayembara.html