Tampilkan postingan dengan label Purbakala. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Purbakala. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Desember 2011

Misteri Otak Manusia Berusia 2.500 Tahun

Sobat Uniqer's, ini mungkin biasa dalam dunia arkeologi: ditemukan sebuah kerangka manusia berusia 2.500 tahun di Inggris. Tapi yang mengejutkan, di bagian tengkorak ditemukan otak yang masih utuh.

Temuan otak berwarna kuning kecoklatan mengkerut jadi pertanyaan besar bagi para ilmuwan: bagaimana mungkin organ rapuh itu bisa bertahan ribuan tahun. Juga, seberapa sering peristiwa pengawetan unik itu terjadi.


Apalagi, kecuali bagian otak, seluruh jaringan lunak pada tengkorak telah hilang saat kerangka itu ditarik dari kubangan lumpur Zaman Besi, yang kebetulan jadi lokasi perluasan kompleks University of York di Heslington Timur.

"Sangat mengagumkan, bayangkan, otak seseorang yang meninggal ribuan tahun lalu bisa bertahan di lahan basah," kata Sonia O'Connor, peneliti posdoktoral di University of Bradford, seperti dimuat situs LiveScience.

O'Connor meneliti tim ilmuwan yang menelaah kondisi otak tertua itu setelah ditemukan tahun 2008 lalu.

"Ini sangat mengejutkan, jika anda bicara pada seorang patolog yang sering berurusan dengan mayat. Mereka akan mengatakan, organ pertama yang akan terurai dan berubah menjadi cairan adalah otak. Sebab, kandungan lemaknya tinggi."

Tengkorak itu diduga milik seorang pria berusia 26 sampai 45 tahun itu dalam kondisi dua tulang rahang dan leher patah -- bukti jasad itu digantung kemudian dipenggal. Meski demikian, lanjut O'Connor, tak ada indikasi mengapa ia digantung. Sisa jasad yang lainnya belum ditemukan.

Untuk diketahui, lebih dari satu dekade sebelumnya, O'Connor terlibat dalam penemuan 25 otak diawetkan dalam era abad pertengahan di Inggris. Namun, tak ada tanda-tanda tengkorak di Heslington itu sengaja diawetkan atau dibuat mumi.

Tengkorak Heslington diduga segera dikuburkan di lahan basah segera setelah tewas. Tak adanya oksigen mungkin mencegah jaringan otak membusuk. Namun, meski tampaknya faktor bebas oksigen jadi kunci dari misteri ini, ilmuwan tak mungkin menyingkirkan faktor-faktor lain seperti penyakit atau perubahan fisiologis tertentu -- seperti kelaparan--yang mungkin mempengaruhi pengawetan otak.

Setelah sekian lama terendam dalam lingkungan basah, otak Heslington mulai berubah secara kimiawi, berkembang menjadi bahan yang tahan lama dan menyusut hingga seperempat dari ukuran semula. Saat ini, ilmuwan masih menyelidiki rincian kimia dari otak tersebut.

Diduga, tengkorak Heslington berasal antara tahun 673 sampai 482 SM. Sementara Romawi diperkirakan tiba di wilayah itu pada tahun 71 Masehi. Menurut Richard Hall, direktur arkeologi di York Arkeologi Trust, di masa lalu wilayah temuan tengkorak itu diperkirakan sebuah lingkungan yang permanen, dengan saluran-saluran air.

Arkeolog juga menemukan lingkaran yang diyakini bekas jerami atap rumah, serta fitur seperti kolam yang mungkin digunakan untuk penyimpanan air, katanya. Para ilmuwan belum bisa menguak tujuan dari lubang-lubang -- di mana tengkorak itu ditemukan. Sementara, tak ada jenazah manusia lainnya telah ditemukan di situs itu.
 Source 

Selasa, 22 November 2011

Saudara Sepupu T-Rex Ditemukan di China

Sobat Uniqer's, saudara sepupu T-Rex yang telah lama hilang akhirnya ditemukan di China. Sama-sama pemakan daging alias karnivora. Ukurannya kurang lebih sama dengan T-Rex, namun diperkirakan dia adalah salah satu dinosaurus pemakan daging terbesar yang pernah ditemukan sampai saat ini.

Sisa-sisa karnivora ini ditemukan di tambang fosil, yang lokasinya berdekatan dengan situs lain di bagian Timur China, salah satu konsentrasi terbesar untuk tulang dinosaurus di dunia.

Zhucengtyrannus magnus,
tyrannosaurus besar dari
Zhucheng, China
"Kami menamakan spesies baru ini Zhucengtyrannus magnus, yang artinya 'Tyranosaurus Besar dari Zhungcheng', karena fosil tulangnya ditemukan di Zhungcheng, bagian barat provinsi Shandong, China," kata David Hone, seorang ahli paleontologi dari University College Dublin di Irlandia.

Zhucengtyrannus adalah sejenis tyrannosaurus, anggota dari kelompok besar Theropoda. Dinosaurus yang tergolong Theropoda umumnya memiliki kaki yang lincah dan sangat buas, termasuk T-Rex dan sejenisnya.

Meski kakinya lincah dan kuat, lengan Theropoda yang berjumlah dua biasanya kecil dan berjari. Namun, tangan ini berkoordinasi sangat baik dengan rahang besarnya untuk mengoyak-ngoyakkan tubuh mangsa dan mematahkan tulangnya.

"Ini adalah dinosaurus terbesar dan satu-satunya yang berjenis tyrannosaurus di China. Sejauh ini baru ada lima spesies dinosaurus pemakan daging dari kelompok Theropoda," tutur Hone pada LiveScience.com, Rabu 13 April 2011.

"Zhucengtyrannus sedikit berbeda dengan tyrannosaurus lainnya. Mereka memiliki kombinasi tulang tengkorak yang unik yang tidak ditemukan di Theropoda lain," tandasnya.

Para peneliti mengestimasi Zhucengtyrannus memiliki tinggi 13 kaki (setara 4 meter) dan berat mendekati 13.200 pound (setara 6.000 kilogram), kurang lebih sama dengan bis sekolah bertingkat.

Di zaman purba, tepatnya pada periode Cretaceous akhir (sekitar 65 juta hingga 99 juta tahun yang lalu), "keluarga besar" tyrannosaurus diperkirakan hidup dan berkembang biak di Amerika Utara dan Asia Timur. Di zamannya, mereka dikenal sebagai pemangsa terbuas dan pemulung.
 Source 

Jumat, 18 November 2011

Spesies Cacing Ditemukan di Laut Dalam

Sobat Uniqer's, Saat ini telah ditemukan kesimpulan baru tentang cacing dalam laut yang disebut Enteropneusts, sebuah kelompok organisme kecil yang misterius. Cacing saat akan pergi, ternyata membuang pasir dan sedimentasi dari usus, kemudian mengikuti arus laut.

Sebelumnya, para peneliti berpikiran bahwa spesies ini hidup dalam air dangkal, namun penelitian terbaru menunjukkan bahwa puluhan spesies tersebut hidup dalam laut sedalam 12.972 kaki atau 3.954 meter.

Enteropneusts juga dikenal sebagai cacing acorn, karena bentuknya yang menyerupai acorn atau biji pohon ek. Studi baru tersebut lalu dimuat di jurnal ilmiah, Proceedings of the Royal Society B, yang menampakkan keragaman warna dan bentuk cacing yang tinggal di laut dalam ini.

Hingga 1965, para peneliti berpikir bahwa cacing acorn hidup di perairan dangkal. Tapi tahun ini, sebuah spesies laut dalam yang telah diambil gambar videonya, mengubah persepsi tersebut.

Dengan menggunakan operasi remote kendaraan dalam laut (ROVs) dari Monterey Bay Aquarium Research Institute (MBARI) dan Pusat Oceanografi nasional Inggris, Southampton, peneliti menemukan banyak misteri dari cacing ini. Dalam banyak kasus, para ilmuwan yang dipimpin oleh Karen Osborn dari Institut Smithsonian, didukung oleh misi peneliti lain, mengambil gambar video cacing-cacing ini, dan spesies lain kemana pun kendaraan ini bergerak.

Sejak tahun 2000 hingga sekarang, peneliti mengambil 498 pengamatan terpisah dari cacing ini, peneliti berhasil mengungkap dasar laut yang belum pernah terlihat sebelumnya. Cacing diketahui hidup di Samudera Atlantik dan Pasifik. Selain cacing acorn, para ilmuwan ini juga menemukan setidaknya sembilan spesies baru.

Mungkin sesuatu yang mengejutkan bahwa cacing bisa pindah kemana-mana. Untuk pertama kalinya, dari jarak yang sangat dangkal sampai 66 kaki atau 22 meter di dasar laut, peneliti mengamati cacing biji mengapung di lautan mana saja. Kamera video menangkap cacing memutar dan mengapungkan badan mereka, yang menunjukkan bahwa mereka sengaja meluncurkan diri mereka ke dalam arus di sekeliling mereka.

Saat cacing makan di dasar laut, perut cacing dipenuhi dengan pasir dan sedimen. Tapi dalam satu rekaman video, peneliti mengamati cacing benar-benar mengosongkan perut sebelum menghilang dari lokasi makan. Video menunjukkan bahwa cacing menggunakan pasir sebagai pemberat untuk menjaga mereka di dasar laut ketika mereka makan, dan kemudian meringankan beban mereka untuk memudahkan perjalanan.
 Source 

Rabu, 09 November 2011

Ditemukan Situs Diduga Peninggalan Abad 14

Sobat Uniqer's, seorang peneliti dari Balai Arkeologi Kota Palembang, Sumatera Selatan, menemukan dua situs baru di Kota Raya Lembak dan Desa Gunung Kaya, Kecamatan Pajarbulan, Kabupaten Lahat, yang diperkirakan berumur 1.000 hingga 1.400 tahun.

Peneliti Balai Arkeologi Kota Palembang, Kristantina Indriastuti, di Lahat, Minggu (23/10/2011), mengatakan, penemuan baru di Desa Kota Raya Lembak berupa 28 artefak yang terdiri atas kampung megalit, tujuh bilik batu, empat lumpang batu, lesung batu, menhir atau batu tegak, dan 11 dolmen atau meja batu.

"Artefak tersebut diperkirakan berumur 1.400 tahun atau merupakan peninggalan abad ke-14," katanya.

Menurut dia, di lokasi yang sama juga ditemukan empat titralit atau batu bersusun, pahatan orang naik gajah, fragmen gerabah, dan keramik asing.


"Penemuan di Desa Gunung Kaya, Kecamatan Pajarbulan, Kabupaten Lahat berupa tempayan kubur, hasil penelitian penanggalan menunjukkan benda itu telah berumur sekitar 1.000 tahun atau merupakan peninggalan abad ke-10," ujar dia.

"Proses penentuan situs yang kami temukan dikenal dengan istilah dating atau penelitian umur suatu situs tempat ditemukan peninggalan arkeologi itu, dan dengan sampel arang yang dianalisis di laboraturium Badan Tenaga Aton Nasional Bandung," ujar dia.

Ia menjelaskan, penelitian untuk menentukan umur situs atau temuan megalit itu menggunakan sampel arang dengan metode radio carbon dating, dengan dukungan dana penelitian dari Balai Arkeologi Palembang sendiri.

"Untuk menemukan beberapa situs baru pada kedua daerah tersebut dibutuhkan waktu sekitar satu minggu melalui penggalian," kata dia.

Kristantina mengemukakan, selama ini cukup banyak hasil penemuan situs atau peninggalan megalitik di daerah Pasemah baik di wilayah Kabupaten Lahat maupun Kota Pagaralam.

"Bila dibandingkan dengan daerah lain, Lahat dan Pagaralam memiliki temuan situs paling banyak di dunia," ujar dia.

Penemuan situs purbakala di daerah atau negara lain, kata Kristantina, hanya satu atau dua jenis, sedangkan pada kedua daerah tersebut mencapai puluhan jenis dan bentuknya.

Dia mencontohkan, penemuan itu gerabah, kubur batu, dolmen, menhir, meja batu, ranjang batu, goa batu, megalit dan masih banyak lainnya.

"Belum lagi penemuan dua goa batu, kursi batu, megalit trimurti, dan kampung megalit di Dusun Mingkik, Kelurahan Atungbungsu, Kecamatan Dempo Selatan baru-baru ini," ujar dia.

Bupati Lahat Saifudin Aswari Rivai mengatakan pemerintah daerah akan menganggarkan dana untuk meningkatkan pembangunan dan pemeliharaan berbagai peninggalan sejarah termasuk situs, arca, dan kuburan batu di daerahnya.

"Ribuan penemuan situs dan megalit di Lahat sebagian besar sudah masuk dalam pengawasan BP3 Jambi. Sementara Pemkab Lahat hanya memfasilitasi dalam proses pembebasan lahannya," ujar dia.

Menurut dia, saat ini pemerintah daerah sudah melakukan berbagai program pembangunan untuk mendukung Lahat menjadi kawasan cagar budaya, termasuk menggalakkan promosi wisata sejarah.
 Source 

Jumat, 04 November 2011

Jam Modern Tertua Ditemukan di Australia

Sobat Uniqer's, sebuah instrumen penunjuk waktu ditemukan di antara tumpukan pipa, yang tersimpan di dalam suatu gudang di sebuah pertanian di Queensland, Australia. Bisa dikatakan ini merupakan jam pertama yang membagi satu hari menjadi 24 jam.

Selama 20 tahun, benda sejarah bernilai tinggi ini tergeletak begitu saja, tanpa ada yang menyadari. Pada tahun '70-an, sebenarnya pemiliknya, Christopher Becker, yang saat itu masih anak-anak, menemukan 'jam' itu dalam sebuah tas penyimpanan pipa. Becker kemudian mendesak ayahnya untuk membawa 'jam' itu ke sebuah museum di Queensland.

Saat itu, benda itu diidentifikasi sebagai astrolabe. Tapi, waktu itu museum belum mengetahui nilai historis yang dimiliki astrolabe tersebut.

Becker lalu menyimpan benda itu, hingga tahun lalu. Saat membaca sebuah artikel mengenai tiga benda kuadran waktu yang dimiliki Raja, Becker kembali teringat benda yang pernah ditemukannya 20 tahun lalu itu.

Ternyata benda itu adalah salah satu kuadran waktu yang memiliki segel pribadi Raja Richard II. Becker pun menghubungi British Museum. Oleh British Museum, benda itu diidentifikasi sebagai instrumen penunjuk waktu tertua kedua, yang pernah dimiliki Inggris. Adapun yang pertama merupakan Chaucer Astrolabe, yang tersimpan di British Museum.

Dengan sengkalan (angka yang menunjukkan tahun) berasal dari tahun 1396, kuadran waktu itu memiliki nilai tinggi saat akan dijual oleh rumah lelang Bonhams, bulan depan. Nilai kuadran waktu ini diperkirakan mencapai 150 hingga 200 Ribu Poundsterling, atau sekitar Rp 2,1 hingga 2,85 milyar.

"Saya percaya benda sepenting ini layak untuk mendapatkan perlakuan lebih baik, ketimbang hanya berada di meja saya, dan menjadi pengingat apa yang menjadi hasrat saya untuk mengkoleksi benda antik," ucap Becker.

Benda ini memang bernilai penting dalam pembabakan sejarah manusia mengenal waktu. Di benda ini, waktu dalam satu hari terbagi dalam 24 jam, yang memang mulai berkembang pada abad ke-14.

Salah satu contoh penggunaan waktu ini adalah saat Richard II melepaskan tahtanya pada 30 September 1399, yang digambarkan terjadi saat jam berdentang sembilan kali.

Dalam benda yang dimiliki Becker, terdapat gambar rusa jantan dengan lambang kerajaan di lehernya. Ini merupakan simbol yang diasosiasikan dengan Richard II.

Lalu bagaimana cara kuadran waktu ini bisa berpindah hingga jauh ke Australia? Ini dipercaya karena pewarisnya pada tahun 1800 meninggalkan Inggris Utara dan berimigrasi ke New Zealand dan Australia.
 Source 

Selasa, 18 Oktober 2011

Fosil Hidup Sang Makhluk Purba

Sobat Uniqer's, rantai evolusi seakan tak berlaku bagi sejumlah spesies. Penampakan mereka tetap sama, dalam kurun waktu berjuta-juta tahun. Mahluk-mahluk itu hidup di hutan, gurun, laut, dan bahkan di halaman rumah kita.

Sebagai 'fosil hidup', mereka memberi gambaran tentang dunia yang hilang. "Karena mereka melestarikan potongan kode genetik kuno, mahluk-mahluk itu harus menjadi prioritas konservasi," kata Piotr Naskrecki, fotografer yang mengabadikan gambar mereka.

Naskrecki yang juga seorang ahli biologi adalah penulis buku, 'Relics: Travels in Nature’s Time Machine' yang akan diterbitkan November 2011.

Buku tersebut adalah katalog, rekaman perjalanan Naskrecki, ke daerah-daerah, tempat di mana mahluk itu bisa mempertahankan akar genetisnya selama ribuan, bahkan jutaan tahun.

"Buku ini adalah proyek sampingan, dari ketertarikan saya dengan garis keturunan purba ini," kata dia. "Sebagai seorang ahli biologi konservasi, saya merasa mereka layak mendapatkan perhatian, sebagai 'kapsul' yang melestarikan keranekaragaman masa lalu."

Wyoming Grig, belalang yang hidup di semak-semak dataran tinggi Wyoming ini merupakan salah satu serangga tertua yang berasal dari jaman Triassic, 250 juta tahun lalu.

Kecoak raksasa ini juga merupakan bagian keanekaragaman hayati hutan hujan Guyana. Makhluk ini dikenal mampu beradaptasi di segala kondisi lingkungan.

Heelwalkers ini hidup di tempat yang panas, kering, di sepanjang pantai barat Afrika.

Belalang betina yang juga hidup di hutan Guyana dan memiliki nama latin Acanthops Soukana ini sedang menunggu mangsanya di sebuah ranting pohon.

Ujung selatan benua Afrika ini memiliki daya tarik bagi para ahli biologi. Daerah seluas 35.000 mil persegi ini memiliki lebih dari 9.000 spesies tanaman.

Phyllomedusa bicolor, katak daun raksasa ini merupakan bagian dari keanekaragaman hayati hutan hujan Guyana di Amerika Selatan.
http://foto.vivanews.com/read/4594/63809-fosil-hidup-sang-makhluk-purba
http://teknologi.vivanews.com/news/read/253725-foto--mahluk-purba-yang-masih-bertahan-hidup

Sabtu, 15 Oktober 2011

Ditemukan 'Studio Seni' Tertua di Dunia

Sobat Uniqer's, para peneliti menemukan sebuah situs kuno yang diklaim sebagai 'studio seni' pertama di dunia. Ruangan itu berada di Gua Blombos, letaknya di Afrika Selatan, tepatnya di pantai sebelah selatan Cape Town. Usianya diperkirakan 100.000 tahun. Demikian dilansir foxnews.com.

Di situs ini, juga ditemukan dua kotak rias secara terpisah. Selain itu, para peneliti juga menemukan batu tajam. Diduga batu-batu itu digunakan sebagai alat pancing. Penemuan terakhir yang dilaporkan adalah pewarna rias, mangkuk penghalus, kulit untuk menyimpan, tulang dan arang untuk campuran pewarna.

Ketua peneliti dari Universitas Bergen, Norwegia, Christopher Henshilwood mengatakan penemuan ini menunjukkan tanda-tanda proses evolusi mental manusia yang kompleks. Menurut para peneliti ini, pewarna yang ditemukan itu dapat digunakan untuk menggambar, dekorasi, dan perlindungan kulit.

Para peneliti ini juga mengatakan penemuan ini menunjukkan bahwa manusia pada waktu itu sudah memiliki kemampuan konseptual terhadap sumber daya, mengombinasikan, dan menyimpan bahan-bahan yang yang mungkin bisa digunakan untuk meningkatkan derajat sosial mereka.

Henshilwood yang juga bekerja untuk Universitas Witwatersrand, Afrika Selatan mengatakan bahwa para peneliti meyakini bagian pewarna make up ini digerus di bebatuan saat membuat serbuk merah. Dan dicampur dengan tulang penggerus, arang, dan potongan tulang.
 Source